Thursday, November 6, 2014


jokowi kaget petani punya banyak anak

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan tiga kartu perlindungan sosial, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (6/11/2014). Jokowi memanfaatkan kunjungannya di Desa Beru-beru dan Saletto untuk membagikan tiga kartu tersebut.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fahmi Idris terlebih dulu mengenalkan secara singkat ketiga program tersebut. Layaknya seremoni pada umumnya, Fahmi kemudian memanggil perwakilan para petani untuk menerima kartu tersebut.
Kartu diberikan kepada Jokowi untuk dilakukan penyerahan secara simbolis. Jokowi kemudian bertemu dengan Syamsuddin, petani kakao di Desa Saletto, yang memiliki lima orang anak.
"Wah amplopnya tebal, kartunya banyak ini. Anaknya berapa, Pak?" tanya Jokowi.
Syamsuddin menjawab bahwa dia tidak mengikuti program Keluarga Berencana sehingga punya lima orang anak.
"Ini Bapak keluarganya lima? Banyak banget Pak," seloroh Jokowi yang kemudian disambut tawa para petani kakao lainnya.
Pembagian kartu tak hanya dilakukan kepada petani kakao di Saletto, tetapi juga petani padi di Desa Beru-beru.
Seperti yang terjadi di Beru-beru, Jokowi juga masih disambut ratusan warga di Saletto. Warga rela berpanas-panasan berdiri di sepanjang jalan di desa tersebut.
Ketika Jokowi turun dari mobil, masyarakat langsung mengerumuninya. Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tidak membatasi interaksi warga dan Jokowi.

kartu jokowi

Puan Bantah KIP, KIS, dan KKS Tak Miliki Payung Hukum

Puan Maharani membantah jika program Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Keluarga Sejahtera (KIS, KIP, dan KKS) tidak memiliki payung hukum.

Khofifah Minta Satu Kursi dan Satu Meja di Setiap Kecamatan

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ingin menempatkan sejumlah orang di setiap kecamatan di seluruh Indonesia untuk mempermudah kerja-kerja Kementerian Sosial

Yusril Ingatkan Jokowi: Mengelola Negara Tak seperti Mengelola Warung

Pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendera, menilai belum ada dasar hukum yang jelas tentang program kartu sosial yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo. Menurut dia, Jokowi tidak bisa seenaknya membuat kebijakan tanpa landasan hukum

Fahri Hamzah Sarankan Jokowi Akui "Kartu Sakti" Sama dengan Program Era SBY

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyarankan Presiden Joko Widodo untuk mengakui bahwa "kartu sakti" yang diluncurkan, yakni Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera serupa dengan program-program dalam pemerintahan SBY

jokowi

Jokowi Gelar Open House di Rumah Dinas

VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta yang juga Presiden terpilih 2014-2019 Joko Widodo bersilaturahmi dengan warga di rumah dinasnya di Taman Suropati, Menteng, Jakarta, Senin (28/7/2014). Jokowi mengadakan silaturahmi terbuka bersama warga sekitar, rohaniwan, dan sejumlah pejabat di rumah dinasnya untuk merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriah. Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma

jk bantah pdip pecah karna kenaikan bbm

Wakil Presiden, Jusuf Kalla, membantah bila dukungan PDI Perjuangan terpecah akibat rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Baginya, pro kontra dalam iklim demokrasi hal biasa.

"Saya kira tidak pecah. Bahwa ada pandangan bersifat pribadi di negara demokrasi biasa saja," katanya di kantor Wakil Presiden,  Kamis 6 November 2014.

Ia masih meyakini secara kelembagaan partai berlambang kepala banteng itu tetap mendukung kebijakan Jokowi-JK. Ini terlihat dari soliditas kader PDIP yang berada di kabinet kerja.

"Kan di kabinet ada Puan, ada siapa lagi. Yang juga selalu rapat. Pada prinsipnya dukung. Tentunya dalam alam demokrasi berhak memberikan pandangan, walaupun bertentangan dengan kebijakan partai," katanya.

Selain itu, JK membantah rencana kenaikan BBM akan menurunkan dukungan terhadap pemerintah. Kondisi saat ini menurutnya hal yang wajar, terutama dalam pemerintahan yang baru.

"Semua pemerintahan punya tantangan baru. Karena tahun pertama dibuat perubahan. Setiap perubahan ada setuju dan tidak. Selalu timbul pro dan kontra. Biasa saja," katanya